Rabu, 22 Agustus 2007

Ketika Anak itu Berkata : "Aku Tak Punya Tuhan..."


Ucapan yang membuatku shock itu datang dari mulut seorang anak berumur 10 tahun.

Seorang anak perempuan yang manis berkebangsaan Scott, bermata biru dan berambut pirang.
Dia bahkan pernah tinggal di Balikpapan (kota tempatku dilahirkan & dibesarkan) selama kurang lebih 4 tahun,
dia juga suka menyapa kami dengan bahasa Indonesianya yang beraksen lucu.
Periang.., & selalu ingin mencoba segalanya.
Pendeknya, seorang anak yang sangat menikmati masa kanak-kanaknya dengan gembira.
Memang..10 tahun buatku masih anak-anak, remaja pun belum.
Tapi sungguh, ucapannya mampu membuatku sadar betapa dalam waktu sepuluh tahun,
segala yang diajarkan oleh orang tua pada anaknya,
ternyata telah mampu memberi pondasi yang sangat kuat dan dalam.
Aku tahu, memang orang tuanya adalah atheis.
YAng aku tidak tahu, ternyata bahwa gadis kecil itupun telah belajar hal itu dari mereka.
Usia 10 tahun, untuk anak-anak muslim itu adalah usia belajar berpuasa dan mengaji.
Namun rasanya, meskipun hal itu diajarkan setiap hari,
tak banyak dari anak-anak seumur ini yang benar-benar punya kesadaran tentang hakikat Allah.., tentang kehadiranNya yang ghaib.., siapakah Dia..,
ataupun mengapa semua hal bermuara kepadaNya.
Mereka sholat dan mengaji karena melihat kita melakukannya,
dan kita pun menyuruhnya untuk melakukan itu pula.
Kalaupun nahoroh.. barangkali anak seumur itu masih bermimpi tentang bapa natal dan berharap akan hadiah yang akan diterimanya jika tidak nakal.
Tapi gadis kecil yang satu ini dia sudah memutuskan untuk tidak percaya
bahwa Tuhan itu ada. Aku jadi termangu-mangu...
Tidak dia lihatkah segala warna bunga-bunga itu..?
Tidak disadarinyakah warna kulit dan rambut kami yang berbeda dengannya ini?
Tidak dirasakannyakah hujan..dingin..angin..dan salju di sini..,
rumput hijau yang bergoyang-goyang kala angin berhembus,
ataupun dedaunan yang menguning dan luruh di musim gugur?
Sungguh sayang...
Begitulah cerita yang aku dapatkan dari seorang kawan cyberku di internet.
Ya.. aku memang sangat senang berbagi cerita dengan teman-teman di dunia maya
tentang pengalaman hidup yang sedang kami rasakan.
Sejak kuliah hobbyku yang satu ini memang tidak pernah kutinggalkan,
karena dari sinilah aku mendapatkan teman sekaligus banyak pelajaran berharga
yang bisa kusari dan kuambil hikmahnya.
Tapi sebenarnya bukan ini yang sedang ingin aku ceritakan.
Dari cerita temanku,
akupun teringat tentang pengalaman masa kecil ibuku.
Entah karena kebodohan & kemiskinan pada era eyang kakungku
atau karena kebiasaan masyarakat pada masa itu.
Tapi kalau dipandang karena kebodohan dankemiskinan..
sampai saat ini pun juga tetap ada.
Semua anak-anaknya sejak kecil sudah bersekolah
di sekolah Kristen (Don Bosco-red) termasuk ibuku.
Padahal menurut cerita ibuku..eyang dan kakungku adalah seorang muslim,
tapi mengapa mereka cenderung menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Kristen..?
apakah ketika itu tidak banya sekolah Islam ataupun umum..?
Ataukah memang karena sekolah Kristen jauh lebih murah dari sekolah umum atau Islam?
Begitu banyak pertanyaan di benakku.. ketika itu usiaku juga masih kecil.
Tak juga banyak jawaban yang memuaskan batinku.
Saat itu yang kutahu dampaknya memang benar-benar fatal..!
Ibu dan saudara-saudaranya secara otomatis sudah berpindah agama menjadi seorang Katolik.
Bahkan hingga kini saudara-saudara ibu tetap memegang teguh keyakinannya.
Alhamdulillah hanya beberapa tahun ibu sudah menjadi seorang muslim kembali.
Semua karena Allah masih memberikan hidayahNya pada ibu.
Aku tidak tahu apa jadinya kalau hidayah itu tidak datang padanya..
apakah aku juga akan menjadi seorang nashoroh?
Aku ingat sebuah cerita..
bagaimana dulu seorang guru di sekolah jaman Uni Sovyet
mengajarkan tentang atheisme pada murid-muridnya.
" Anak-anak..katanya, sekarang tutup mata kalian,
dan berdoalah pada Tuhan supayamemberi kalian pensil."
"Sekarang buka mata kalian.. adakah pensil di tangan kalian?"
Murid-murid pun menjawab tidak ada.
"Nah sekarang tutup mata kalian lagi dan berdoa pada bu guru supaya memberi kalian pensil."
Murid-murid pun melakukan apa yang disuruhnya
dan sang guru pun membagikan pensil ke tangan masing-masing anak.

"nah, sekarang buka mata kalian.. adakah pensil itu?"
anak-anak menjawab ada dengan gembira.
"Jadi sekarang kalian tahu bukan? bahwa Tuhan itu tidak ada..
buktinya Dia tidak bisa memberi apa yang kalian minta. Tapi bu guru bisa.."
Sungguh naif memang..,
menyatakan kenihilan Tuhan dengan ukuran kebendaan.
Tapi jika itu dilakukan setiap saat, seorang bayipun pasti akan jadi terlatih
untuk berpikir dengan cara seperti itu.
Namun sebaliknya hal itu bisa kita lakukan pula terhadap anak-anak kita.
Jika setiap saat kita katakan bahwa Tuhan itu ada,
mereka tidak akan pernah percaya bahwa Tuhan itutidak ada.
Pernah suatu ketika putra sulungku yang mulai pintar dan banyak bertanya,
melemparkan pertanyaan yang tidak pernah kusangka.
kami biasa berwisata ke toko buku jika hari libur atau kapan ada kesempatan.
(ayahnya sangat suka membaca banyak buku dan mewajibkan kami
untuk selalu membaca buku apa saja).
Saat itu kami datang pada salah satu toko buku Islam andalan kami
di kawasan Menur Pumpungan.
Ketika asyik melihat-lihat buku matanya tertumbuk pada salah satu judul buku
& membacanya.."Ka'bah Rumah Allah.."
dan sponton dia bertanya.."Bunda kalo' Ka'bah itu rumah Allah berarti Allah ada di dalamnya dan bisa dilihat disana ya? tempatnya jauh ya bun..?
kalau dekat kan kita bisa liburan ke Ka'bah bun..
soalnya aku ingin lihat Allah itu bentuknya seperti apa?"
Aku tercekat..
heran bercampur kagum mendengar pertanyaan seorang bocah berusia lima tahun kala itu..
"Ka'bah itu memang rumah Allah, tapi Allah hanya bisa kita lihat di Surga, sayang.
Di surga juga ada banyak mainan yang mas sukai.
Kita hanya bisa merasakan Allah itu dimana-mana dan selalu menyertai kita."
Aku berharap dia puas akan jawabanku,
tapi nyatanya tidak..! suatu ketika saat pulang sekolah dia kembali berkata padaku..
"Bun aku tahu Allah itu bentuknya seperti apa..,"
dengan penuh selidik aku bertanya padanya,
"memang mas tahu bentuknya seperti apa?"
"Coba mas tolong gambarkan seperti apa Allah itu.."
" Bun Allah itu kan ada di mana-mana, jadi bentuknya juga bermacam-macam..
berbentuk kotak, bulat.., juga seperti mainanku..pokoknya banyak"
begitu jawabannya yang polos itu.
Kali ini aku hanya tersenyum dan mengelus kepalanya juga tidak menyela jawabannya.
Aku hanya berpikir untuk sementara waktu biarlah dia puas mendapati wujud Tuhannya dengan imajinasinya.
Bukankah dulu nabi Ibrahim juga pernah mengalami perjalanan spiritual yang sama?
Aku hanya berharap dan berusaha agar bisa membuaka lebar-lebar mata dan kalbu anak-anakku, supaya mereka tahu bahwa Allah tak pernah jauh.
Dia hadir menelusup di relung hati mereka, mengasihi dan mencintai mereka
dan juga kaum papa..,
Dia ciptakan bunga-bunga, siang dan juga malam untuk mereka.
Dia ada anakku...
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengemban amanah Allah.
Anak tak hanya berkah, namun juga ujian seumur hidup bagi kita.
Jika sedari awal sudah kita upayakan mendidik mereka..
pasti akan ada hasilnya.
Insya Allah...

Tidak ada komentar: